Hukum KB dalam Islam

14

Hukum KB Menurut al-Qur’an dan Hadits

Sebenarnya dalam al-Qur’an dan Hadits tidak ada nas yang shoreh yang melarang atau memerintahkan KB secara eksplisit, karena hukum ber-KB harus dikembalikan kepada kaidah hukum Islam, yaitu:

الا صل فى الأشياء الاباحة حتى يدل على الدليل على تحريمها

Tetapi dalam al-Qur’an ada ayat-ayat yang berindikasi tentang diperbolehkannya mengikuti program KB, yakni karena hal-hal berikut:

  • Menghawatirkan keselamatan jiwa atau kesehatan ibu. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة (البقرة : 195)

“Janganlah kalian menjerumuskan diri dalam kerusakan”.

  • Menghawatirkan keselamatan agama, akibat kesempitan penghidupan hal ini sesuai dengan hadits Nabi:

كادا الفقر أن تكون كفرا

“Kefakiran atau kemiskinan itu mendekati kekufuran”.

  • Menghawatirkan kesehatan atau pendidikan anak-anak bila jarak kelahiran anak terlalu dekat sebagai mana hadits Nabi:

ولا ضرر ولا ضرار

“Jangan bahayakan dan jangan lupa membahayakan orang lain.

Sumber:

  1. Abdurrahman Umran, Islam dan KB (PT Lentera Basritama: jakarta. 1997)

KB Menurut Pandangan Islam

12

Pandangan Al-Qur’an Tentang Keluarga Berencana

Dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memberikan petunjuk yang perlu kita laksanakan dalam kaitannya dengan KB diantaranya ialah :

Surat An-Nisa’ ayat 9:

وليخششش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم فليتقواالله واليقولوا سديدا

“Dan hendaklah takut pada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah. Mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Selain ayat diatas masih banyak ayat yang berisi petunjuk tentang pelaksanaan KB diantaranya ialah surat al-Qashas: 77, al-Baqarah: 233, Lukman: 14, al-Ahkaf: 15, al-Anfal: 53, dan at-Thalaq: 7.

Dari ayat-ayat di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa petunjuk yang perlu dilaksanakan dalam KB antara lain, menjaga kesehatan istri, mempertimbangkan kepentingan anak, memperhitungkan biaya hidup brumah tangga.

Pandangan al-Hadits Tentang Keluarga Berencana

Dalam Hadits Nabi diriwayatkan:

إنك تدر ورثك أغنياء خير من أن تدرهم عالة لتكففون الناس (متفق عليه)

“sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan dari pada meninggalkan mereka menjadi beban atau tanggungan orang banyak.”

Dari hadits ini menjelaskan bahwa suami istri mempertimbangkan tentang biaya rumah tangga selagi keduanya masih hidup, jangan sampai anak-anak mereka menjadi beban bagi orang lain. Dengan demikian pengaturan kelahiran anak hendaknya dipikirkan bersama.

Menurut Pandangan Ulama

1)      Ulama’ yang memperbolehkan

Diantara ulama’ yang membolehkan adalah Imam al-Ghazali, Syaikh al-Hariri, Syaikh Syalthut, Ulama’ yang membolehkan ini berpendapat bahwa diperbolehkan mengikuti progaram KB dengan ketentuan antara lain, untuk menjaga kesehatan si ibu, menghindari kesulitan ibu, untuk menjarangkan anak. Mereka juga berpendapat bahwa perencanaan keluarga itu tidak sama dengan pembunuhan karena pembunuhan itu berlaku ketika janin mencapai tahap ketujuh dari penciptaan. Mereka mendasarkan pendapatnya pada surat al-Mu’minun ayat: 12, 13, 14.

2)      Ulama’ yang melarang

Selain ulama’ yang memperbolehkan ada para ulama’ yang melarang diantaranya ialah Prof. Dr. Madkour, Abu A’la al-Maududi. Mereka melarang mengikuti KB karena perbuatan itu termasuk membunuh keturunan seperti firman Allah:

ولا تقتلوا أولادكم من إملق نحن نرزقكم وإياهم

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut (kemiskinan) kami akan memberi rizkqi kepadamu dan kepada mereka”.

Sumber:

  1. Drs. H. Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah (PT Toko Gunung Agung : Jakarta. 1997)
  2. Abdurrahman Umran, Islam dan KB (PT Lentera Basritama: jakarta. 1997)
  3. H. Chuzamah, T. Yangro dkk. (ed), Problematika Hukum Islam Kontemporer (Pustaka Firdaus: Jakarta. 2002)

Cara KB yang Diperbolehkan dan yang Dilarang oleh Islam

13

Cara yang Diperbolehkan

Ada beberapa macam cara pencegahan kehamilan yang diperbolehkan oleh syara’ antara lain, menggunakan pil, suntikan, spiral, kondom, diafragma, tablet vaginal , tisue. Cara ini diperbolehkan asal tidak membahayakan nyawa sang ibu. Dan cara ini dapat dikategorikan kepada azl yang tidak dipermasalahkan hukumnya.

Alasan Diperbolehkannya KB

Menurut kelompok ulama yang membolehkan, dari segi nash, tidak ada nash yang sharih secara eksplisit melarang ataupun memerintahkan ber-KB.

Mereka juga beralasan dari sudut pandang ekonomi dan kesehatan, antara lain, sebagai berikut:

  1. Untuk memberikan kesempatan bagi wanita beristirahat antara dua kehamilan.
  2. Jika salah satu atau kedua orang pasangan suami istri memiliki penyakit yang dapat menular.
  3. Untuk melindungi kesehatan ibu.
  4. Jika keuangan suami istri tidak mencukupi untuk membiayai lebih banyak anak.
  5. Imam al-ghazali menambahkan satu lagi, yaitu menjaga kecantikan ibu.

Secara umum lembaga-lembaga fatwa di Indonesia menerima dan membolehkan KB. Majelis Ulama Indonesia menjelaskan, bahwa ajaran islam membenarkan Keluarga Berencana. Argumen yang membolehkannya adalah untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, pendidikan anak agar menjadi anak yang sehat, cerdas, dan sholeh. Majelis Tarjih Muhamadiyah memandang KB sebagai jalan keluar dari keadaan mendesak, dibolehkan sebagai hukum pengecualian, yakni:

  1. Untuk menjaga keselamatan jiwa atau kesehatan ibu.
  2. Untuk menjaga keselamatan agama, orang tua yang dibebani kewajiban mencukupi keperluan hidup keluarga dan anak-anaknya.
  3. Untuk menjaga keselamatan jiwa, kesehatan atau pendidikan anak-anak.

Ulama-ulama NU termasuk memperbolehkan KB didasarkan pada prinsip kemaslahatan keluarga (Mashalihul Usrah) bagi pengembangan kemaslahatan umum (al-mashalihul ‘Ammah). Sedangkan menurut ulama PERSIS, KB dalam pengertian pengaturan jarak kelahiran hukumnya ibadah, dan tidak terlarang.

Bagi Negara, program KB dapat mengurangi beban negara. Contohnya sebelum tahun 1990 diprediksikan, tanpa program KB jumlah penduduk Indonesia tahun 2000 akan mencapai 285 juta jiwa. Namun dengan program KB, sensus pada tahun itu menunjukkan jumlah penduduk hanya 205 juta jiwa. Artinya, ada penghematan energi, pangan, dan sumber daya lain yang semestinya digunakan oleh 80 juta jiwa. Oleh karena itu program KB terus digalakkan oleh pemerintah.

Cara yang Dilarang

Ada juga cara pencegahan kehamilan yang dilarang oleh syara’, yaitu dengan cara merubah atau merusak organ tubuh yang bersangkutan. Cara-cara yang termasuk kategori ini antara lain, vasektomi, tubektomi, aborsi. Hal ini tidak diperbolehkan karena hal ini menentang tujuan pernikahan untuk menghasilakn keturunan.

 

Alasan Tidak Diperbolehkannya KB

Hukum KB bisa haram jika menggunakan alat atau dengan cara yang tidak dibenarkan dalam syariat islam.

Ada beberapa ulama yang menolak KB dengan alasan antara lain, yaitu:

  1. KB sama dengan pembunuhan bayi.
  2. KB merupakan tindakan tidak wajar (non-alamiah) dan bertentangan dengan fitrah.
  3. KB mengindikasikan pada ketidakyakinan akan perintah dan ketentuan Tuhan.
  4. KB berarti mengabaikan doa Nabi agar umat islam memperbanyak jumlahnya.
  5. KB akan membawa petaka konsekuensi-konsekuensi sosial.
  6. KB adalah suatu jenis konspirasi Imperialis Barat terhadap negara-negara yang berkembang.
  7. KB dilakukan karena niat yang tidak baik misalnya takut mengalami kesulitan ekonomi dan susah mendidik anak.

Para ulama sepakat bahwa menggunakan metode KB yang bersifat permanen hukumnya haram. Metode permanen adalah metode yang bersifat mantap, yang meliputi tindakan :

  1. Vasektomi atau vas Ligation
  2. Tubektomi atau Tubal Ligation (operasi ikat saluran telur)
  3. Histerektomi (operasi pengangkatan rahim)

Ulama mengharamkan metode kontrasepsi permanent ini karena menilainya sebagai bentuk pengebirian yang dilarang oleh Rasulullah saw. Sesuai dengan sabda Rasulullah : Tidaklah termasuk golongan kami (umat islam) orang yang mengebiri orang lain atau mengebiri dirinya sendiri. Disamping itu, tindakan sterilisasi juga dianggap sebagai mengubah firth kejadian manusia yang dilarang dalam islam.

Sumber:

  1. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah (PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. 1997)
  2. Abdurrahman Umran, Islam dan KB (PT Lentera Basritama: jakarta. 1997)
  3. Musthafa Kamal, Fiqih Islam (Citra Karsa Mandiri: Yogyakarta. 2002)
  4. Abul Fadl Mohsin Ebrahim, Aborsi, Kontrasepsi dan Mengatasi Kemandulan (Mizan: Bandung. 1997)

Keluarga Berencana Dalam Islam

11

Pengertian Keluarga Berencana

Keluarga berencana merupakan suatu proses pengaturan kehamilan agar terciptanya suatu keluarga yang sejahtera. Adapun menurut Undang Nomor 52 Tahun 2009 pasal 1 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menyebutkan bahwa Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan dan  bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1992 pasal 1 ayat 12 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera menyebutkan bahwa Keluarga berencana adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera.

Pandangan Hukum Islam tentang Keluarga Berencana

  1. Hukum Ber-KB

KB secara prinsipil dapat diterima oleh Islam, bahkan KB dengan maksud menciptakan keluarga sejahtera yang berkualitas dan melahirkan keturunan yang tangguh sangat sejalan dengan tujuan syari`at Islam yaitu mewujudkan kemashlahatan bagi umatnya. Selain itu, Kb juga memiliki sejumlah manfaat yang dapat mencegah timbulnya kemudlaratan. Bila dilihat dari fungsi dan manfaat KB yang dapat melahirkan kemaslahatan dan mencegah kemudlaratan maka tidak diragukan lagi kebolehan KB dalam Islam.Namun persoalannya kemudian adalah : sejauh mana ia diperbolehkan? dan apa saja batasannya?. Hal tersebut akan terjawab pada penjelasan dibawah ini.

  1. Makna Keluarga Berencana

Para ulama yang membolehkan KB sepakat bahwa Keluarga Berencan (KB) yang dibolehkan syari`at adalah suatu usaha pengaturan/penjarangan kelahiran atau usaha pencegahan kehamilan sementara atas kesepakatan suami-isteri karena situasi dan kondisi tertentu untuk kepentingan (maslahat) keluarga. Dengan demikian KB disini mempunyai arti sama dengan tanzim al nasl (pengaturan keturunan). Sejauh pengertiannya adalah tanzim al nasl (pengaturan keturunan), bukan tahdid al nasl (pembatasan keturunan) dalam arti pemandulan (taqim) dan aborsi (isqot al-haml), maka KB tidak dilarang. Pemandulan dan aborsi yang dilarang oleh Islam disini adalah tindakan pemandulan atau aborsi yang tidak didasari medis yang syari`i. Adapun aborsi yang dilakukan atas dasar indikasi medis, seperti aborsi untuk menyelamatkan jiwa ibu atau karena analisa medis melihat kelainan dalam kehamilan, dibolehkan bahkan diharuskan. Begitu pula dengan pemandulan, jika dilakukan dalam keadaan darurat karena alasan medis, seperti pemandulan pada wanita yang terancam jiwanya jika ia hamil atau melahirkan maka hukumnya mubah. Kebolehan KB dalam batas pengertian diatas sudah banyak difatwakan , baik oleh individu ulama maupun lembaga-lembaga ke Islaman tingkat nasional dan internasional, sehingga dapat disimpulkan bahwa kebolehan KB dengan pengertian /batasan ini sudah hampir menjadi Ijma`Ulama. MUI (Majelis Ulama Indonesia) juga telah mengeluarkan fatwa serupa dalam Musyawarah Nasional Ulama tentang Kependudukan, Kesehatan dan Pembangunan tahun 1983. Betapapun secara teoritis sudah banyak fatwa ulama yang membolehkan KB dalam arti tanzim al-nasl, tetapi kita harus tetap memperhatikan jenis dan cara kerja alat/metode kontrasepsi yang akan digunakan untuk ber-KB.

  1. Metode/ Alat Kontrasepsi dan Hukum Penggunaannya

Ada lima 5 persoalan yang terkait dengan penggunaan alat kontrasepsi, yaitu :

  1. Cara kerjanya, apakah mencegah kehamilan (man’u al-haml) atau menggugurkan kehamilan (isqat al-haml)?
  2. Sifatnya, apakah ia hanya pencegahan kehamilan sementara atau bersifat pemandulan permanen (ta’qim)?
  3. Pemasangannya, Bagaimana dan siapa yang memasang alat kontrasepsi tersebut? (Hal ini berkaitan dengan masalah hukum melihat aurat orang lain).
  4. Implikasi alat kontrasepsi terhadap kesehatan penggunanya.
  5. Bahan yang digunakan untuk membuat alat kontrasepsi tersebut.

Alat kontrasepsi yang dibenarkan menurut Islam adalah yang cara kerjanya mencegah kehamilan (man’u al-haml), bersifat sementara (tidak permanen) dan dapat dipasang sendiri olrh yang bersangkutan atau oleh orang lain yang tidak haram memandang auratnya atau oleh orang lain yang pada dasarnya tidak boleh memandang auratnya tetapi dalam keadaan darurat ia dibolehkan. Selain itu bahan pembuatan yang digunakan harus berasal dari bahan yang halal, serta tidak menimbulkan implikasi yang membahayakan (mudlarat) bagi kesehatan.

Alat/metode kontrasepsi yang tersedia saat ini telah memenuhi kriteria-kriteria tersebut diatas, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa KB secara substansial tidak bertentangan dengan ajaran Islam bahkan merupakan salah satu bentuk implementasi semangat ajaran Islam dalam rangka mewujudkan sebuah kemashlahatan, yaitu menciptakan keluarga yang tangguh, mawardah, sakinah dan penuh rahmah. Selain itu, kebolehan (mubah) hukum ber KB, dengan ketentuan-ketentuan seperti dijelaskan diatas, sudah menjadi kesepakatan para ulama dalam forum-forum ke Islaman, baik pada tingkat nasional maupun Internasional (ijma’al-majami).

Sumber:

  1. H. Aminudin Yakub,MA-Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat
  2. Asy sya’rawi, M.M., 1995. Anda Bertanya Islam Menjawab Jilid 1-5. Gema Insani Press.Jakarta

CONTOH KASUS KECERDASAN SOSIAL

KS

Orang dengan kecerdasan sosial tinggi tidak akan menemui kesulitan saat memulai suatu interaksi dangan seseorang atau sebuah kelompok baik kelompok kecil maupun besar. Ia dapat memanfaatkan dan menggunakan kemampuan otak dan bahasa tubuhnya untuk “membaca” teman bicara. Kecerdasan sosial dibangun antara lain atas kemampuan inti untuk mengenali perbedaan, secara khusus perbedaan besar dalam suasana hati, temperamen, motivasi, dan kehendak. Dalam bentuk yang lebih maju, kecerdasan ini memungkinkan orang membaca kehendak dan keinginan orang lain, bahkan ketika keinginan itu disembunyikan. Kecerdasan sosial ini juga mencakup kemampuan bernegoisasi, mengatasi segala konflik, segala kesalahan dan situasi yang timbul dalam proses negoisasi.

Perhatikan cerita singkat berikut:

Tiga anak berusia 13 tahun sedang menuju kelas untuk ujian matematika. Dua anak laki-laki yang tampak cerdas berjalan di belakang sambil diam-diam menertawakan, dan anak ketiga yang kelihatan agak gemuk.

“Jadi kamu akan mencoba keberuntunganmu di ujian matematika kali ini?” salah satu dari dua anak itu berkata dengan sarkastik kepada anak ketiga, suaranya sarat dengan ejekan.

Anak yang gemuk itu menutup matanya sejenak dan mengambil napas dalam seolah-olah ia mengeraskan dirinya untuk konfrontasi di depan mata.

Kemudian ia berbalik kepada kedua anak lain itu dan menjawab dengan nada datar dan apa adanya, “Yah, aku akan coba-tapi aku memang kurang  pintar dalam hitung-menghitung”. Setelah diam sejenak, ia menambahkan, “tetapi aku pintar dalam bidang seni, kamu tunjukkan apa saja padaku dan aku bisa menggambarnya dengan bagus..”

Kemudian menunjuk pada lawannya ia berkata, “Kamu, kamu memang hebat untuk hitung-menghitung, kamu hebat! Aku ingin sepertimu suatu hari, namun rasanya tidak mungkin, matematika terlalu sulit untukku. Barangkali aku bisa sedikit lebih pintar main di bidang matematika kalau aku tetap mencoba dan terus berlatih”.

Pada titik itu, anak laki-laki yang pertama setelah ejekannya sekarang tidak mempan sema sekali, berkata dengan nada ramah, “Ah, sebenarnya kamu tidak bodoh-bodoh amat. Kalau kamu mau aku bisa mengajarkanmu belajar matematika dengan rumus-rumus singkat yang ku punya”.

Itulah sekelumit cerita yang dipaparkan oleh Daniel Goleman dalam bukunya Social Intellegence. Cerita di atas menggambarkan betapa tingkat kecerdasan sosial yang dimiliki oleh seorang anak di sekolah menengah. Sebenarnya, awal dari percakapan dapat menjadi pemicu terjadinya perkelahian di antara mereka. Namun yang terjadi justru sebaliknya, mereka menjadi semakin akrab. Malah salah seorang anak yang pandai matematika justru berniat untuk mengajarkan matematika kepada anak yang agak gemuk.

REFERENSI:

Goleman, Daniel.2007.Social Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

MENGEMBANGKAN KECERDASAN SOSIAL PADA ANAK

KS4

  1. MENGEMBANGKAN KECERDASAN SOSIAL DIMULAI DARI KELUARGA

Keluarga merupakan bagian yang paling penting dari “jaringan sosial” kehidupan seorang anak manusia. Sebab anggota keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak dan orang yang paling penting selama tahun-tahun formatif awal kehidupan mereka. Hubungan dengan anggota keluarga menjadi landasan sikap anak bagi pola penyesuaian dan belajar berfikir tentang diri mereka sebagaimana dilakukan anggota keluarganya.

Oleh karena itu, agar proses pendidikan, belajar mengajar, dan pengasuhan pada anak-anak dapat berjalan dengan baik, maka keluarga harus dibangun secara kondusif, sebagai berikut:

  1. Memberikan rasa aman.
  2. Memberikan kasih sayang dan penerimaan.
  3. Menjadi andalan dan rujukan.
  4. Model bimbingan hidup dan bermasyarakat.
  5. Motivator utama dalam meraih keberhasilan.
  6. Sumber persahabatan.

 

  1. IBU SEBAGAI SEKOLAH PERTAMA BAGI ANAK

Ketika anak-anak berada di sekolah formal atau reguler, maka tanggung jawab orang tua berada di tangan guru dan pengelola sekolah. Akan tetapi, bila anak-anak berada di rumah, maka kedua orang tua bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan anak.

Peran orang tua begitu besar dalam pendidikan anak. Peran orang tua disini adalah kedua orang tua yaitu ayah dan ibu. Namun bila ditinjau lebih, seorang ibu mempunyai kedekatan yang luar biasa dengan anak, maka peran ibu sangat penting dalam mendidik anak.

Menyadari betapa besar peran seorang ibu sebagai pendidik utama dan pertama, maka seorang ibu yang ingin anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik semestinya mempersiapkan diri dengan banyak bekal pengetahuan yang berkaitan dengan mendidik anak-anak semenjak usia dini. Bekal pengetahuan agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik yang dimiliki seorang ibu dapat diterapkan dalam hangatnya pengasuhan dan kelembutan bersikap. Mengembangkan kecerdasan anak, terutama kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual dipengaruhi oleh teladan dan sentuhan personal yang penuh rasa cinta, atensi dan apresiasi.

Demikian faktor yang harus dibangun dalam suatu keluarga untuk bisa mendidik dan mengembangkan kecerdasan anak.

REFERENSI:

Muhaimin, Akhmad. 2010. Mengembangkan Kecerdasan Sosial Bagi Anak. Katahati: Jogjakarta.

KOMPONEN MEMBANGUN KECERDASAN SOSIAL

KS2

Penulis sains populer Daniel Goleman (2007) menyatakan adanya 2 komponen utama dalam membangun kecerdasan sosial yang baik, yaitu :

1. Kesadaran sosial. Kesadaran sosial secara instan merasakan keadaan batiniah orang lain sampai memahami perasaan dan pikirannya.

Ada beberapa hal untuk mendapatkan situasi sosial yang baik, yaitu:
a. Empati dasar : Suatu kemampuan untuk merasakan isyarat-isyarat non-verbal dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan merasakan emosi orang lain.

b. Penyelarasan : Perhatian yang lebih dari empati yang bertahan untuk melancarkan hubungan yang baik, yaitu dengan menawarkan perhatian lebih atau total kepada seseorang dan mendengarkan sepenuhnya.

c. Ketepatan empatik : Ketepatan empatik dibangun di atas empati dasar tapi ditambah dengan adanya suatu kemampuan untuk memahami pikiran, perasaan dan maksud orang lain dalam berinteraksi dengan orang lain sehingga tercipta interaksi yang baik dan harmonis.

d. Pengertian sosial : Pengertian sosial merupakan pengetahuan tentang bagaimana dunia sosial itu sebenarnya bekerja. Orang yang memiliki kemahiran dalam pengertian sosial biasanya banyak mengetahui apa yang diharapkan dalam kebanyakan situasi sosial. 
2. Fasilitas sosial, meliputi :
a. Sinkroni : Berinteraksi secara mulus pada tingkat non-verbal. Sebagai landasan fasilitas sosial, sinkroni adalah batu fondasi yang menjadi landasan dibangunnya aspek-aspek lain. Sinkroni memungkinkan kita bergerak dengan anggun melalui tarian non-verbal bersama orang lain, dengan tanda-tanda sinkroni mencakup interaksi yang terkonsentrasi secara harmonis, dari senyuman atau mengangguk pada waktu yang tepat untuk semata-mata mengarahkan tubuh kita pada orang lain.
b. Presentasi : Suatu kemampuan untuk menampilkan diri sendiri secara efektif untuk menghasilkan kesan yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Salah satu hal yang dipandang penting dalam presentasi diri yaitu adanya kemampuan untuk mengendalikan dan menutupi. Orang yang mahir dalam pengendalian itu merasa percaya diri dalam segala situasi, memiliki kemampuan untuk bertindak yang sesuai pada tempatnya.
c. Pengaruh : Adanya suatu kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar dapat membentuk hasil interaksi sosial yang baik. Contohnya dengan menggunakan kemampuan bicara yang hati-hati dan adanya kendali diri, mendekati orang lain dengan perilaku profesional, tenang, dan penuh perhatian.
d. Kepedulian : Merupakan kemampuan seseorang untuk peduli akan kebutuhan orang lain dan melakukan tindakan yang sesuai dengan hal itu.

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk membangun kecerdasan sosial yang baik, kedua komponen di atas sangat diperlukan dan keduanya saling berhubungan.

REFERENSI:

Goleman, D. 2007. Social Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kecerdasan Sosial (Social Intelligence)

KS3

  1. DEFINISI KECERDASAN SOSIAL MENURUT PARA AHLI

Menurut Thorndike (1920, dalam Kihlstrom & Cantor, 2011), kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk memahami dan mengatur orang lain untuk bertindak dengan bijaksana dalam hubungan antar manusia (to act wisely in human relation). Dari pengertian ini, Thorndike membuat hipotesis bahwa terdapat dua jenis umum dari kecerdasan sosial yaitu:

1) Apresiasi kognitif, yaitu memahami orang lain, “understanding of others”.

2) Efektifitas tingkah laku yang nampak, “to act wisely”.

Pada perkembangan selanjutnya secara kontras, Wechsler (1935, 1958) memberikan perhatian khusus terhadap kecerdasan sosial dalam pengembangan Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R) dan instrumen-instrumen lain yang serupa. Menurut Wechsler (dalam Kihlstrom & Cantor, 2011) kecerdasan sosial hanyalah kecerdasan umum yang diterapkan pada situasi sosial.

Pengetahuan manusia tentang kecerdasan terus berkembang dari waktu ke waktu, sehingga melahirkan konsep baru tentang kecerdasan. Gardner (1993) mempublikasikan teori tentang Multiple Intelligence. Ia menyatakan bahwa kecerdasan manusia bukan hanya terdiri atas faktor tunggal, melainkan banyak faktor, di antaranya: kecerdasan bahasa (linguistik), matematika-logika, musik, visual-spasial, bodily-kinestetik, dan kecerdasan personal. Namun kemudian, Gardner (1999) membagi kecerdasan personal ke dalam dua jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan interpersonal dan intrapersonal. Gardner (1999, 2006) merumuskan kecerdasan interpersonal sebagai kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Hal ini meliputi kemampuan berinteraksi secara efektif melalui komunikasi verbal dan non-verbal, kemampuan untuk memberikan tanda terhadap perbedaan di antara satu dengan yang lain, sensitivitas terhadap perasaan dan tempramen orang lain dan kemampuan untuk menerima berbagai perspektif.

Memasuki tahun 1990-an, konsep kecerdasan sosial mulai beralih dari psikometri menuju pada neuropsychology. Goleman (1995) membagi kecerdasan emosional ke dalam lima kompetensi, yaitu: kesadaran diri, regulasi diri, motivasi, empati, dan hubungan antar pribadi (relationships). Namun pada tahun 2006, Goleman meredefinisi kecerdasan tersebut menjadi dua kompetensi yaitu kompetensi emosi dan sosial (social-emotion competence). Kompetensi internal (internal competence) berupa kesadaran diri dan regulasi diri menjadi sub-kategori dari kecerdasan emosional, sedangkan kompetensi eksternal (external oriented competencies) berupa kesadaran sosial dan fasilitas sosial menjadi sub-konstruk dari kecerdasan sosial.  Goleman (2007) merumuskan kecerdasan sosial sebagai kemampuan untuk mengerti orang lain dan bagaimana mereka akan bereaksi terhadap berbagai situasi sosial yang berbeda. Goleman memandang kecerdasan sosial lebih pada neuropsychology dari pada psikometri. Oleh karena itu, Goleman mengusung ide tentang social neuroscience dalam menjelaskan kecerdasan sosial miliknya.

Dari berbagai pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa secara umum kecerdasan sosial adalah kemampuan yang mencapai kematangan pada kesadaran berpikir dan bertindak untuk menjalankan peran manusia sebagai makhluk sosial dalam menjalin hubungan dengan lingkungan atau kelompok masyarakat.

  1. MODEL KOMPONEN DASAR KECERDASAN SOSIAL

Dalam buku karangan Karl Albrecht yang berjudul The New Science of Success, disebutkan bahwa ada lima komponen dasar untuk mengasah kecerdasan sosial, yang disingkat dengan kata ‘SPACE’, yaitu :

S : Situational Awareness (kesadaran situasional)

“The ability to read situations and to interpret the behaviours of people in those situations.”

Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kemampuan untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan dan hak orang lain.

Contoh: Seseorang yang merokok di tempat umum dan menghembuskan asapnya secara sembarangan menunjukkan bahwa dia memiliki situational awareness  yang rendah.

P : Presence (kemampuan membawa diri)

 Also known simplistically as “bearing,” is the impression, or total message you send to others with your behavior. People tend to make inferences about your character, your competence and your sense of yourself based on the behaviors they observe as part of your total presence dimension.”

Bagaimana etika penampilan, tutur kata dan sapa yang berikan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya.

Contoh : Kita akan lebih mudah mengingat orang lain yang memiliki kualitas presence yang paling baik dan yang paling buruk.

A : Authenticity (keaslian)

Authenticity is the extent to which others perceive you as acting from honest, ethical motives, and the extent to which they sense that your behavior is congruent with your personal values – i.e. “playing straight.”

Authenticity dari perilaku kita yang akan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya, jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan ketulusan. Elemen ini sangat penting karena hanya dengan aspek yang satu ini kita bisa mengembangkan relasi.

Contoh : Orang lain akan lebih memercayai kita, apabila kita tulus dalam segala perbuatan, dan juga apabila kita berlaku apa adanya, tidak dibuat-buat.

C : Clarity (kejelasan)

 “Clarity is the ability to express ideas clearly, effectively and with impact. It involves a range of “communicating” skills such as listening, feedback, paraphrasing, semantic flexibility, skillful use of language, skill in using metaphors and figures of speech, and the ability to explain things clearly and concisely.

Aspek ini menjelaskan sejauh mana kita dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide secara baik dan persuasif sehingga orang lain bisa menerima dengan tangan terbuka. Sering kali kita memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara baik sehingga lawan bicara kita tidak berhasil diyakinkan.

Contoh : Seseorang yang memberikan pendapatnya dengan gugup dan tidak jelas, sekalipun gagasan itu bagus, tetap saja para pendengar akan merasa tidak yakin terhadap gagasan tersebut.

E : Emphaty (empati)

 “Emphaty is the skill of building connections with people – the capacity to get people to meet you on a personal level of respect and willingness to cooperate.”

Aspek ini merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pendapat orang lain. Dan juga sejauh mana kita memiliki keterampilan untuk bisa mendengarkan dan memahami maksud pemikiran orang lain.

REFERENSI:

Kihlstrom, J. F., & Cantor, N. 2011. Social Intelligence. Dalam R. J. Sternberg, & S. B. Kaufman (Eds.), The Cambrigde Handbook of Intelligence (hlm.564-581). New York: Cambridge University Press.

Wechsler, D. 1958. The measurement and appraisal of adult intelligence (4th Ed.) Baltimore: The Williams & Wilkins Company.

Gardner, H. 1993. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.

Gardner, H. 1993. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.

Gardner, H. 1999. Inteligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st Century. New York: Basic Books.

Gardner, H. 2006. Multiple Inteligences: New Horizons. New York: Basic Books.

Goleman, D. 1995. Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York, NY: Bantam Books.

Goleman, D. 2007. Social Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.